JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN FOLLOW BLOG INI YACH TEMAN-TEMAN.....^___^

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kalian Boleh Copas atau nyumut2 isi blog ini tapi untuk Artikel yang diijinkan yah itupun dengan syarat
HARUS CANTUMKAN FULL CREDITNYA!!!
jika mencuri hasil karya tulisan orang lain, bagaimana tulisanmu juga mau diapresiasi orang lain?
yuk mari kita saling mendukung satu sama lain \^o^/
Makasih udah mau mampir

baca novel dan FICTION bersambung karanganku di blog

Jumat, 21 Januari 2011

Artis Korea yang Ulang tahun di Bulan Januari

SUNGMIN (SUPER JUNIOR)
(1 JANUARI)




YOSEOB (BEAST)

(5 JANUARI)




LEE CHAN HO

(8 JANUARI)




JIHYUN (4MINUTE)

(9 JANUARI)


BRIAN JOO (FTTS)
(10 JANUARI)



PARK GA JIN (JQT)
(10 JANUARI)


SUNDAY (CSJH)
(12 JANUARI)



GOO HARA KARA
(13 JANUARI)



LEE SEUNG GI
(13 JANUARI)


PARK JI YOUNG (JYP)
(13 JANUARI)




JUNSU (2PM)
(15 JANUARI)




HWANHEE (F2TS)
(17 JANUARI)




LEE KI SUB (U-KISS)
(17 JANUARI)




KANGIN (SUPER JUNIOR)
(17 JANUARI)



MINZY (2NE1)
(18 JANUARI)



KANG JI YOUNG (KARA)
(18 JANUARI)



KANG DONG WON

(18 JANUARI)



KIM JEONG HOON
(20 JANUARI)



ANDY LEE (SHINHWA)
(21 JANUARI)



JANG RYU WON
(21 JANUARI)




JUNHO (2PM)
(25 JANUARI)




JOO MIN SUN (JQT)
(25 JANUARI)



TOMO (A’ST1)
(25 JANUARI)




HERO JAE JOONG (DBSK)
(26 JANUARI)


PARK YOON HWA TMAX
(31 JANUARI)



SAENGIL CHUKKAHAE...!!!
OPPA, UNNIE, DONGSAENG ^^

Kamis, 13 Januari 2011

POSISI TEORI DALAM RISET AUDIENS

Dalam membahas posisi atau peran teori dalam riset, ada baiknya memulainya dengan memahami macam-macam logika yang dipakai sebagai cara berpikir dalam riset. Pertama, logika deduktif, yang dipakai dalam riset yang mengandung “pengujian teori atau konsep”. Survey kuantitatif pakai logika ini. Kedua, logika induktif, yang jika dipakai secara “sempurna”, maka yang dapat kita saksikan adalah penelitian grounded (grounded research), penelitian dalam rangka “menemukan teori”. Kedua macam logika tersebut saling berlawanan. Logika deduktif dipakai dalam penelitian yang prosedur berpikirnya bertolak dari teori atau konsep (kebenaran umum) menuju data penelitian (kebenaran khusus). Logika induktif dipakai dalam penelitian yang berpikirnya bertolak dari data penelitian (kebenaran khusus), menuju penemuan teori atau konsep (kebenaran umum).

Di luar kedua macam logika tersebut, ada logika lain yang biasa dipakai juga dalam riset, dan logika lain yang dimaksud, biasanya, dinamai logika atau cara berpikir yang dialektik, yakni prosedur berpikir yang di samping mengandung deduktif juga menyertakan induktif, secara berganti-ganti atau bolak-balik dalam satu paket penelitian. Istilah lainnya, misalnya, pakai cara berpikir yang disebut “lingkaran hermeneutic”, yakni rute berpikir yang melingkar-lingkar di antara data dan teori-teori dan konsep-konsep, kadang tampak deduktif, kadang di putaran lain tampak induktif, kadang analogis (=memahami sesuatu dengan memakai analogi). Penelitian dengan logika semacam ini dijumpai dalam penelitian-penelitian kualitatif (dalam arti kualitatif sesungguhnya). Oleh karenanya dalam penelitian macam ini, teori yang disertakan lebih dari satu teori, atau berlapis-lapis, demi optimalisasi pemahaman hasil penelitian.
Contoh riset audiens yang mengandung uji teori, misalnya mempermasalahkan pengaruh terpaan televisi terhadap waktu belajar anak-anak. Maka teorinya dalam penelitian ini dibahas dalam “kerangka teoretis” (theoretical framework), yang berisi pokok-pokok bahasan, misalnya, berturut-turut:
(1) anak-anak dan waktu belajar,
(2) faktor-faktor yang mempengaruhi waktu belajar anak-anak,
(3) terpaan televisi di kalangan anak-anak, dan
(4) pengaruh terpaan televisi terhadap waktu belajar anak-anak.

Pendefinisian “anak-anak” dan “waktu belajar” ada di nomor (1), nomor (2) mengidentifikasi atau mengeksplorasi faktor-faktor yang secara teoretis dianggap berpengaruh terhadap waktu belajar anak-anak, termasuk di dalamnya adalah media massa atau televisi, dan pendefinisian terpaan televisi ada di nomor (3). Dalam kerangka teoretis dalam contoh ini, terdapat 2 variabel yakni derajat terpaan televisi (variable X) dan jumlah waktu belajar (variable Y).
Kalau contoh di atas memposisikan teori untuk diuji kebenarannya secara empiris, maka dalam contoh berikut, adalah dalam penelitian kualitatif, yang memposisikan teori sebagai “partner diskusi” dalam memahami atau memaknai data.

Ada saat di mana teori dipakai sebagai titik-tolak untuk menentukan data (deduktif), di saat lain data dipakai untuk merumuskan konsep (induktif), ada pula saat peneliti memperoleh pengukuhan makna data dari suatu teori, atau memperoleh pemahaman akan data penelitian dengan memakai suatu teori atau konsep sebagai analogi yang berfungsi membantu pemahaman (misal konsep “jarum hipodermik”, “medan magnit”, “panggung pertunjukan”, dsb). Contoh penelitian, misalnya mempermasalahkan bagaimana audiens perempuan memaknai sinetron Cinta Fitri. Teorinya dinamai “tinjauan teoritis”, bukan “kerangka teoritis”, dan berisi pokok-pokok bahasan, misal:
(1) Televisi sebagai industri,
(2) sinetron sebagai program hiburan di televisi,
(3) program hiburan dan budaya massa,
(4) audiens dan budaya menonton,
(5) perempuan, cinta dan opera sabun di televisi.



credit: DosenQhu~~~Pak Farid^^

RECEPTION STUDIES DALAM RISET AUDIENS

Dalam kajian komunikasi reception studies biasanya dipakai salah satu alternatif dalam riset audiens sebagai salah satu metode alternatif dalam riset audiens, kemunculan reception studies bukan sebagai reaksi terhadap metode survey dalam riset audiens (metode yang paling banyak dipakai) melainkan lebih sebagai alternatif dari metode analisis teks dalam studi media. apa kesamaan dan perbedaan antara analisis teks media dan reception studies? kedua metode tersebut sama2 memakai pendekatan kualitatif dan sama-sama berupaya menemukan makna pesan melalui penelitian.

Perbedaannya adalah dalam analisis teks media, makna temuan penelitian dicapai melalui pemaknaan atas teks oleh peneliti sementara dalam reception studies, makna yang ditemukan merupakan hasil pemaknaan pesan / teks media oleh audiens yang diteliti.

dalam sejarah riset audiens, reception studies mulai berkembang awal 1980-an dieropa. mereka yang merintis metode ini dalam studinya beranggapan bahwa para peneliti analisis teks media (termasuk pemakai semiotika)
terlalu percaya akan kemampuannya dalam memakai teks media. mereka memilih cara pandang bahwa pemaknaan teks media yang dianggap penting untuk distudi adalah pemaknaan teks media oleh audiens, dan bukan pemaknaan teks oleh peneliti.

Dalam Reception studies audiens diasumsikan sebagai individu2 yang berada dalam, dan menjadi bagian dari, budaya massa (mass culture). Oleh karenanya dalam reception studies terdapat anggapan bahawa audiens menduduki posisi yang sebenarnya lemah dalam berhadapan dengan media.
Audiens mengonsumsi teks media seperti umumnya kaum muda erkotaan mengonsumsi musik pop, ayam goreng dan produk budaya massa lainnya. contoh studi dengan metode ini misalnya dilakukan oleh Len Ang, kritikus film dan pakar komunikasi berkebangsaan belanda, pada tahun 1979 dalam studinya itu, Ang meneliti penonton serial TV buatan Hollywood yang berjudul Dallas. Kala itu ia menilai bahwa serial yang satu ini tergolong luar biasa, karena berhasildiputar di TV-TV di 90 lebih negara baik di eropa, amerika latin, asian juga afrika. Dibelanda, 52% penduduknya secara rutin menonton serial ini.

dalam risetnya itu, Len Ang memulainya dengan menulis iklan dan dipublikasikan lewat majalah VIVA (majalah perempuan yang terbit di belanda) dan berbunyi "saya suka menonton Dallas di Televisi, namun sering mengalami reaksi2 yang ganjil. bisakan anda menulis dan menceritakan kepada saya kenapa anda juga suka menontonnya, atau tidak menyukainya? saya ingin mencerna reaksi-reaksi ini dalam disertasi saya. silahkan tulis......"

menyusul iklan itu, Ang menerima 42 surat (hanya tiga yang engirimnya laki-laki), baik yang menyukainya maupun yang membenci serial Dallas. Surat-surat itu ia jadikan sebagai basis empiris untuk studinya lebih lanjut, secara mendalam. menurut para penulis surat "kesenangan" atau "ketidaksenangan" terhadap Dallas sangat terkait dengan persoalan "realisme". sampai pada tataran dimana seorang subyek penelitiannya menemukan "baik" / "buruk"-nya program, ditentukan oleh apakah materi tayangan "realitis" (baik) atau "tidak relistis" (buruk).
Dari analisis lebih lanjut, ia temukan bahwa dikalangan pemirsa dallas berkembang apa yang dia sebut "realisme empiris" yakni sebuah teks dianggap realistis sampai dimana teks merefleksikan secara memadai apa yang ada di luar teks itu sendiri. dalam analisisnya pula, Ang menemukan berkembangnya "realisme melodramatik" dikalangan audiens, dalam arti audiens larut atau hanyut kedalam konflik2 dan intrik2 yang dilakukan para tokoh dalam cerita dallas. bahkan sampai pada berkembangnya perasaan benci terhadap tokoh J.R, yang dianggap juga ada dalam lingkungan kehidupan nyata audiens, walau dalam dunia nyata karakter jahat J.R diperankan oleh orang kelas bawah (dan bukan kaum jetset semacam J.R dalam Dallas).

dari data2 semacam itu, sudi resepsi berupaya menganalisisnya dengan mengungkap apa-apa yang ada / bersembunyi dibalik penuturan2 audiens yang distudi. peneliti berupaya mengungkap makna2 terdalam dari fenomena tersebut. karena reception studies termasuk studi berparadigma kritis, maka pertanyaan yang perlu dijawab juga dalam analisis adalah pertanyaan "mengapa", mengapa audiens memperlakukan teks media begitu rupa. Apakah budaya konsumen yang kini berkembang turut mengondisikan penerimaan audiens atas teks media menjadi seperti itu? atau produksi dan reproduksi budaya pop, relevan juga untuk disertakan dalam interpretasi?


Etnografi dalam Riset Audiens

dengan metode Etnografi, riset audiens diselenggarakan dalam rangka untuk memperoleh pemahaman tentang bagaiman praktik konsumsi media terjadi, berkembang / berlangsung dalam kehidupan keseharian (everyday live) audiens. konsep praktik "konsumsi" dalam studi2 etnografi biasanya dipandang sebagai bagian dari budaya suatu kelompok masyarakat. oleh karena dipandang sebagai budaya, maka kebiasaan2 dalam memanfaatkan radio, tv, film, majalah, dsb, yang terpola dari waktu ke waktu, menjadi perhatian utama peneliti.

sekedar contoh, misalnya dalam kaitannya dengan kehadiran radio dalam kehidupan kelompok tertentu dalam masyarakat (dimasa lalu). dalam suatu studi ditemukan berbagai cara audiens berinteraksi dengan radio dirumah tinggalnya, berinteraksi dengan pengelola siaran radio dengan penyiar favoritnya.

dalam berinteraksi dengan modium radio yang hadir di dalam kehidupan kesehariannya, audiens tak hanya memanfaatkan radio untuk mengetahui / menikmati lagu2 terbaru, untuk mengetahui perkembangan dunia diluar wilayah kehidupan kongkrit audiens, tapi juga menjadikan radio sebagai sumber status, sebagai teman/ sahabat yang seolah hidup dan mendampinginya dikala siang/ malam. dimasa lalu, radio diperdengarkan juga sebagai bagian penting dari dekorasi rumah tinggal, tak beda dengan kelompok masyarakat yang mengonsumsi guci keramik dan karya lukisan untuk memperindah dan mempergaya ruang tamu.
orang menonton film rame2 / sekeluarga, juga tidak semata untuk memperoleh hiburan dalam kehidupan di luar rumah tapi tontonan film juga dikonsumsi sebagai bagian dari kehidupan sosialnya, sebagai bagian dari kelengkapan status dan sebagainya, sampai pada bagaimana pola2 pemanfaatan tv pada tatanan yang lebih detail. antara keluarga kelas menengar dan keluarga kelas bawah, tentu beda dalam mengonsumsi saluran televisi yang bisa mereka akses.
bagaimana interaksi antar anggota keluarga dikeluarga kelas menengah dalam kaitannya dengan keberadaan pesawat tv, tentu beda dengan pola interaksi yang berlangsung di keluarga kelas bawah. begitu pula interaksi mereka tentu juga beda antara yang berkembang di keluarga kelas atas dan di keluarga kelas bawah.


Oleh karena tujuan penlitian etnografi adalah untuk memperoleh pemahaman tentang pola-pola budaya suatu kelompok masyarakat, maka pendekatan penelitiannya memakai pendekatan kualitatif dengan unit analisisnya adalah kelompok (dan bukan individu). unit analisis dalam etnografi audiens, misalnya berupa keluarga / rumah kos. keluarga yang didalamnya terdapat beberapa anggota dengan satu / dua pesawat tv, atau rumah kos dengan satu pesawat tv, bagaimana praktik konsumsi tayangan tv terkait keberadaan pesawat televisi di rumah kos / keluarga itu.
bagaimana budaya menonton yang berkembang disitu.

bagian tahapan yang dianggap amat menentukan dalam metode ini adalah pengumpulan data dalam metode etnografi, termasuk untuk studi audiens, teknik pengumpulan data yang paling dianjurkan adalah observasi terlibat (atau semi terlibat) dan wawancara etnografi (atau wawancara mendalami) teknik ini dipakai dalam rangka menangkap dan mengungkap realitas "di dalam" kehidupan keseharian audiens dalam kaitannya dengan konsumsi media yang distudi. sementara analisis datanya seperti yang dilakukan oleh antropolog kenamaan asal amerika serikat, geerte adalah analisis interpretatif.

Teknik ini dipakai dalam rangka memperoleh pemahaman ttg makna2 dibalik fakta2 yang tampak dan dibalik pertanyaan2 audiens terkait praktik konsumsi media yang distudi.


credit: dosenQhu~~~Pak Farid... ^^

FGD DALAM RISET AUDIENS

metode FDG ( Focus Group Discussion) termasuk metode yang memakai pendekatan kualitatif yang dalam penelitiannya melibatkan
1. Peneliti
2. Moderator diskusi (bisa dihandle oleh peneliti)
3. Partisipan (kelompok responden atau subyek penelitian).

partisipan dalam FGD merupakan kelompok2 responden/subyek penelitian, bisa berjumlah 2 samapai 4 kelompok dalam 1 paket penelitian, tergantung kebutuhan berdasarkan permasalahan penelitian. jumlah partisipan dalam tiap kelompok bisa antara 5 - 10 orang (Gronstendt 1997) / versi lain membatasi anatar 8 -12 orang perkelompoknya. (Van den Berg 1998)

dalam riset Audiens FGD digunakan untuk melacak hal-hal tertentu yang ingin di tonjolkan oleh (menjadi, prioritas bagi) kelompok2 partisipan (sebagai representasi audiens tertentu) dalam FGD.
peneliti tak hanya membutuhkan jawaban nyata (tersurat) dari partisipan . anggota kelompok, tapi juga (dan ini yang lebih penting) yang tersirat, misal berupa prioritas2, penekanan2 atau aksentisi, melalui "tata-urut" atau "pengulangan-pengulangan" jawaban / komentar2 partisipan / iutu semua dianggap sangat bermakna bagi peneliti.

misalnya peneliti hendak mengungkapkan partisipan, menyikapi program2 teve/ iklan2 tertentu. program reality show yang tertentu, misalnya bisa menjadi boomerang effect bagi stasiun tv jika isu dan penggarapannya tidak disertai pencermatan dengan memperhitungkan kemungkinan reaksi audiens. FGD, selain bisa dimanfaatkan untuk mengevaluasi juga bis dipakai untuk menjajagi dan memantapkan pilihan program tv.

macam2 hal yang disinggung (dalam diskusi) dan urutan pengutaraan / pengulangan2 pada sisi2 tertentu, serta tekanan suara dan ekspresi wajah yang mengiringi pengutaraan pikiran tentang bagian tertentu dalam program tv, menjadi dasar dalam interpretasi dan kesimpulan hasil penelitian.
oleh sebab itu, alat bantu semacam rekaman suara dan atau rekaman audio visual untuk merekam suara dan gambar adegan2 dalam diskusi, menjadi amat penting bagi peneliti, karena ungkapan2 verbal dan ekspresi non verbal dari para partisipan, merupakan data penting dalam FGD.

Secara garis besar Prosedur riset audiens dengan metode FGD dapat dirinci sebagai berikut:
1. Peneliti menentukan topik, bisa agak luas, bisa agak spesifik. misal makna materi tayangan ninja warrior bagi audiens anak2. Apakah makna2 yang berkembang dibenak anak2 ini bisa merusak mental mereka / justru sebaliknya?
2. Peneliti menyusun semacam "Interview guide" (agak longgar, tak terlalu ketat) untuk menjamin agar diskusi dapat fokus pada isu yang ditetapkan.
3. Peneliti menyediakan " pket pesan" (misal: rekaman tayangan program tv, iklan / tayangan company profile) yang menjadi bahan diskusi.
4. peneliti merekrut partisipan dari kalangan audiens tertentu dan jumlah kelompok, serta jumlah anggota tiap kelompok, sesuai kebutuhan. lazimnya peneliti menyediakan konsumsi dan intensif untuk mereka, agar bersedia berpartisipasi.
5. Peneliti mencari dan membekali moderator untuk memimpin diskusi (termasuk melontar pertanyaan2 ke partisipan). Dengan adanya moderator yang mampu memimpin diskusi, peneliti lebih leluasa melakukan pencermatan terhadap berkembangnya data-data yang bisa dipetik dari adegan diskusi.
6.peneliti (bisa dibantu moderator) merencanakan waktu dan tempat diskusi. tiap kelompok, total waktu diskusinya lazimnya berlangsung selama 1-1,5 jam. setengah jam didalamnya dipakai untuk menampilkan (menayangkan) "paket pesan" dihadapan anggota kelompok sebagai bahan diskusi, satu jam berikutnya untuk diskusinya.
7. peneliti menyususn transkrip hasil diskusi, dengan mencermati juga hasil rekaman yang dibuat. Ekspresi non vrbal serta paralinguistik dari peserta diskusi, merupakan bagian penting dalam transkrip.
8 peneliti melakukan analisis terhadap data dalam transkrip dan biasanya memerlukan triangulasi data dan atau triangulasi teori.
9. peneliti menarik kesimpulan tentang mutu program televisi atau iklan dengan mengacu pada rumusan masalah dan teorinya.
10. peneliti menysun laporan penelitian.


credit: DosenQhu~~~pak Farid^^

LISTEN MY SONG NOW.. YOU MUST LIKE IT!!!