JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN FOLLOW BLOG INI YACH TEMAN-TEMAN.....^___^

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kalian Boleh Copas atau nyumut2 isi blog ini tapi untuk Artikel yang diijinkan yah itupun dengan syarat
HARUS CANTUMKAN FULL CREDITNYA!!!
jika mencuri hasil karya tulisan orang lain, bagaimana tulisanmu juga mau diapresiasi orang lain?
yuk mari kita saling mendukung satu sama lain \^o^/
Makasih udah mau mampir

baca novel dan FICTION bersambung karanganku di blog

Minggu, 27 Juni 2010

Kebudayaan Palembang

Kota Palembang merupakan kota tertua di Indonesia berumur setidaknya 1382 tahun, jika berdasarkan prasasti Sriwijaya yang dikenal sebagai prasasti Kedudukan Bukit. Menurut Prasasti yang berangka tahun 16 Juni 682. Pada saat itu oleh penguasa Sriwijaya didirikan Wanua di daerah yang sekarang dikenal sebagai kota Palembang. Menurut topografinya, kota ini dikelilingi oleh air, bahkan terendam oleh air. Air tersebut bersumber baik dari sungai maupun rawa, juga air hujan. Bahkan saat ini kota Palembang masih terdapat 52,24 % tanah yang yang tergenang oleh air (data Statistik 1990). Berkemungkinan karena kondisi inilah maka nenek moyang orang-orang kota ini menamakan kota ini sebagai Palembang dalam bahasa melayu Pa atau Pe sebagai kata tunjuk suatu tempat atau keadaan; sedangkan lembang atau lembeng artinya tanah yang rendah, lembah akar yang membengkak karena lama terendam air (menurut kamus melayu), sedangkan menurut bahasa melayu-Palembang, lembang atau lembeng adalah genangan air. Jadi Palembang adalah suatu tempat yang digenangi oleh air.
Kota Palembang adalah salah satu kota (dahulu daerah tingkat II berstatus kotamadya) sekaligus merupakan ibu kota dari Provinsi Sumatra Selatan. Palembang adalah kota terbesar kedua di Sumatra setelah Medan. Kota ini dahulu merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya sebelum dihancurkan oleh Majapahit. Sampai sekarang bekas area Kerajaan Sriwijaya masih ada di Bukit Siguntang, di Palembang Barat.
Beberapa tarian tradisional Palembang antara lain tarian Gending Sriwijaya, Tanggai, dan Lilin Siwa. Tarian itu memiliki gerak dan corak yang senada dengan tarian-tarian dari ranah Melayu. Selain itu juga ada seni Pewayangan.
Pewayangan di Palembang bukan sekadar ada, tetapi berkembang. Namun cerita pewayangan itu mengalami perombakan untuk disesuaikan dengan budaya setempat. Ada pula cerita-cerita rakyat yang sebelumnya banyak berkembang di Pulau Jawa, juga dikisahkan di Palembang dengan modifikasi budaya setempat, misalnya kisah Raden Inu Kertapati atau Ande-Ande Lumut.
Palembang juga memiliki banyak tradisi yang jarang ditemui di daerah-daerah lain selain di Kota Palembang. Misalnya sebagai berikut:

• Tradisi Lomba atau Balap Bidar.
Bidar adalah sejenis perahu panjang seperti perahu naga yang ada di daerah hongkong. Perahu itu dihias seindah mungkin dan di lombakan dengan perahu yang lainnya. Lomba Bidar ini biasanya dilakukan di sungai musi. Tradisi ini mulai dilakukan sejak jaman Sriwijaya tepatnya pada dinasti Sailendra.

• Tradisi Telok Abang.
Telok Abang adalah Telur yang diberi warna merah dengan menggunakan sumba atau pewarna makanan. Telur tersebut ditusuk pada bambu yang telah dihiasi oleh bunga-bunga sehingga bentuknya seperti mainan anak-anak. Telok Abang ini biasanya ramai dijual setiap tanggal tujuh belas agustus yang terkenal dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia. Tradisi ini tidak terdapat dikota lain selain Palembang.

• Tradisi Saling Sanjo
Tradisi ini biasanya dilakukan saat merayakan hari raya Idul Fitri. Tradisi ini lebih sering dilakukan antar keluarga tapi tak jarang pula dilakukan dalam kehidupan bertetangga. Biasanya setelah melaksanakan sholat ied dimasjid. Setiap keluarga saling mengunjungi tetangganya. Setelah itu Tradisi ini dilakukan antar sanak keluarga. Mulai dari keluarga yang urutannya terkecil mengunjungi keluarga yang mempunyai kedudukan yang lebih tua. Misalnya ada keluarga yang mempunyai lima orang anak dan setiap anak sudah memiliki keluarga tersendiri dan terpisah. Waktu hari raya inilah kesempatan yang digunakan untuk berkumpul kembali dengan keluarganya.
Anak terkecil (bungsu) beserta keluarganya mengunjungi keluarga kakak yang berada diatasnya. Kemudian setelah itu, kedua keluarga itu berkunjung ke kakak yang selanjutnya dan begitu seterusnya sampai akhirnya mereka berkumpul di rumah orang tua mereka.
Selain tiga tradisi diatas masih banyak tradisi lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Di Palembang juga memiliki tradisi dalam merayakan hari pernikahan. Yang paling khas dari tata cara pernikahan di Palembang adalah adanya Pantun bersahut. Hal ini biasanya dilakukan pada saat rombongan mempelai pria tiba di tempat mempelai wanita berada. Sebelum mempelai pria masuk, mempelai pria dihadang oleh keluarga mempelai wanita menggunakan bambu. Mempelai Pria diwajibkan menjawab pantun yang diberikan oleh keluarga mempelai wanita. Mempelai pria diijinkan masuk jika dapat memjawab pantun itu jika tidak maka pintu tidak dapat dibuka dan mempelai pria tidak dapat masuk. Tapi biasanya hal ini sudah diatur sebelumnya sehingga tidak akan terjadi kejadian mempelai pria tidak dapat masuk ke tempat mempelai wanita berada.
Hampir setiap tradisi-tradisi yang disebutkan disana dilakukan oleh setiap warga asli palembang di setiap desa, kecamatan maupun kelurahan karena sistim budaya yang dianut mengikuti adat-adat kebudayaan yang telah tertanam di kota Palembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

LISTEN MY SONG NOW.. YOU MUST LIKE IT!!!